Sep
30
2021

Bagikan

Wastra Kulit Kayu dari Toro


Mengenal Kulit Kayu dari Ngata Toro
Kain kulit kayu banyak ditemukan di beberapa komunitas adat di nusantara.  Salah satunya komunitas adat Toro, atau sering disebut Ngata Toro di sekitar Kabupaten Kulawi, Sulawesi Tengah. “Ngata” dalam bahasa mereka berarti kampung.

“Halili” sebutan untuk pakaian adat mereka yang terbuat dari  bahan baku serta kulit kayu. Kain kulit katu juga dibuat sarung untuk tidur supaya terhindar dari nyamuk.

Bahan baku kain kulit kayu diambil dari dalam “arean” (sebutan untuk hutan) atau sekitar pemukiman di wilayah adat mereka.  Adapun nama pohon yang sering diambil kulitnya diantaranya tea, teaunta, teahera dan nunuka.  Setiap pohon hanya boleh diambil kulit kayunya sekitar 2 - 3 tahun sekali.

Proses pembuatannya adalah sebagai berikut, batang pohon dipukul-pukul terlebih dahulu sebelum dikupas kulitnya. Dilepas lalu dicuci dan masuk proses perebusan.  Setelah itu, dibungkus dan didiamkan selama empat hari empat malam baru dibuka kembali.  Untuk digantung sampai kering selama satu hari satu malam. Terakhir dipukul-pukul sampai halus dengan menggunakan batu ike, sebutan untuk peralatan pemukulnya.  Ada tujuh peralatan dalam pembuatan kulit kain kayu ini, dengan ukuran dan bentuk yang berbeda.

(RA/2021)



Picture Gallery