Nov
10
2021

Bagikan

Wastra Doyo dari Benuaq


Proses pembuatan tidak jauh berbeda dengan kain tenun yang berasal dari kapas. Pertama,  beberapa daun doyo dipetik dan direndam dalam air bersih yang mengalir [baca:sungai] supaya tetap segar.  Kemudian diserut dengan pisau terbuat dari bambu hingga menghasilkan serat dan digantung hingga kering.

Tahap kedua, serat doyo yang sudah kering dipilin-pilin hingga menjadi moyent doyo [sehelai benang], kemudian disambung menjadi nukui [benang yangpanjang].  Siap untuk digulung menjadi lawei munter, istilah lokal untuk bola benang doyo.   Sembari menggulung benang, biasaya dilakukan perapihan seratnya dengan menggunakan alat yang bernama ngorakng entaq.

Tahap ketiga adalah proses pewarnaan benang doyo untuk mendapatkan nelep, istilah untuk motif dalam ulap doyo. Proses pewarnaannya mengunakan sistem pencelupan dengan pewarnaan alam.  Warna hitam diperoleh dari pencampuan resin, abu dan rebusan daun kebuau.  Warna kuning diperoleh dari kunyit dan santan.  Warna merah diperoleh dari tumbukan batu Sungai Lado, benih geligemp yang ditumbuk atau getah kulit kayu uar.  Rebusan tanaman putri malumenghasilkan warna hijau pekat. Warna coklat diperoleh dari getah akar oter yang ditumbuk. Saat ini, bahan baku pewarnaan alam agak sulit diperoleh karena habitat tanaman tersebut sebagian besar sudah menjadi lahan sawit.

Tahap terakhir adalah proses menenun dengan motif yang terinspirasi dari kehidupan Masyarakat Benuaq dalam keseharian.  Secara umum, ada dua warna yang menjadi makna filosofis, yaitu warna hitam bermakna mencegah sihir dan warna putih bermakna menyembuhkan penyakit dari sihir. 


[RA/2021]

 



Picture Gallery