Oct
01
2021

Bagikan

Cerita Kopi dari Golulada


MENGENAL KOPI GOLULADA
Menurut cerita, keberadaan kopi di Ende diperkenalkan oleh misionaris Belanda, yang waktu itu bibitnya dibawa oleh Bangsa Portugis dari Timor Leste. Dan kopi dari Ende tepatnya Kopi Golulada jenis robusta sudah mulai dipasarkan ke Bali sejak tahun 1963. Namun jauh sebelum itu, saat jaman kolonial Belanda, Masyarakat Golulada hanya bisa menikmati kopi dari seduhan daunnya. Sedangkan bijinya dibawa ke negeri Belanda.

Di Kabupaten Ende ada 30 komunitas adat yang melakukan budidaya kopi. Sampai saat ini, sudah ada beberapa organisasi pendamping yang sudah membantu memasarkan kopi mereka, diantaranya FeCo Indonesia yang sekarang berganti nama menjadi Recotto, Yayasan Tanah dan Prisma. Saat pendampingan, petani kopi juga diberikan pemahaman terkait isu fairtrade dalam pemasaran kopi.

Sejak Tahun 1973, oom Lukas sudah mulai melakukan pengembangan budidaya tanaman kopi secara komunal. Namun baru ada pendampingan dari Dinas Perkebunan daerah setempat di tahun 1982-1983. Sedangkan pengembangan budidaya kopi jenis arabika baru dimulai di tahun 1990 dan sampai saat ini masih terus dalam proses pengembangan.

Saat ini, sudah ada tujuh kelompok petani kopi di Desa Golulada. Satu kelompok terdiri dari 15 - 20 petani, yang rata-rata mempunyai lahan tanaman kopi seluas1 - 1,5 hektar. Mereka tergabung dengan Koperasi Produksi Kopi Kelimutu. Dan kelompok petani kopi tersebut pernah melakukan studi banding ke Jember untuk melihat penanganan hama penyakit tanaman kopi. Selain itu, mereka juga melakukan studi banding ke Gayo dan Kintamani untuk budidaya kopi jenis arabika.

Umumnya, petani kopi di Ende menghasilkan dua jenis kopi arabika yang ditanam pada ketinggian 1,050 - 1,150 mdpl. Sedangkan jenis robusta ditanam di ketinggian 800 - 900 mdpl. Kedua jenis kopi tersebut ditanam di lahan yang menghadap ke laut dengan karakter tanah vulkanik.

Budidaya tanaman kopi dilakukan secara tumpang sari dengan beberapa jenis pohon, seperti Pohon Cengkeh, Pohon Kemiri dan Pohon Lamtoro. Untuk ketinggian 1,000 mdpl, tanaman kopinya ditanam bersamaan dengan Pohon Damar. Mereka juga melakukan budidaya kopi dengan tanaman hortikultura, seperti jagung, kacang-kacangan, lada, sereh, kunyit dan cabe serta porang di sela-sela "rurak" (sebutan mereka untuk istilah got). Untuk tanaman hortikultura, jenisnya diganti setiap lima tahun sekali.

Yang menjadi keunikan dari budidaya kopi mereka adalah proses pemupukan dan pembasmi hama, dilakukan secara organik. Mereka menggunakan bahan baku yang diambil dari sekitar kampung, seperti kotoran ternak, daun kering dan potongan rumput yang difermentasi menjadi pupuk dan cairan pembasmi hama tanaman kopi.

Masa panen dilakukan setahun sekali. Kopi Golulada jenis arabika dipanen di Bulan Mei, sedangkan kopi jenis robusta di Bulan Juni. Hasil panen rata-rata 750 kg/ha dalam bentuk biji kopi petik merah. Terakhir mengalami penurunan, yaitu 300 kg/ha. Mereka melakukan proses pengolahan biji kopi dengan sistem natural, honey process, full wash dan semi wash. Jenis arabika biasanya diproses dengan sistem full wash, sedangkan jenis robusta dengan cara natural.

Beruntung saat pandemi, masih ada pengiriman pesanan biji kopi ke su-re.co di Bali dan pembeli dari Bandung. Berdasarkan pengalaman, pengiriman perlu perhatian khusus dalam pengemasannya untuk menghindari campur aroma di dalam kontainer.

Oom Lukas yang saat itu menjabat Kepala Desa Golulada menceritakan bahwa Kopi Golulada jenis arabika pernah diikutsertakan dalam ajang kompetisi bertaraf dunia untuk kopi spesial di Atlanta, Amerika Serikat. Dan mendapatkan urutan ke-14 dalam ajang tersebut. Kabar ini menjadi berita yang menggembirakan sehinga ada peliputan khusus dari harian koran nasional.

Menjaga pola pikir para anggota kelompok petani kopi untuk terus tetap belajar ke arah yang lebih baik dalam melakukan budidaya, pengolahan dan pemasaran kopi, menjadi hal penting mempertahankan keunikan cita rasa Kopi Golulada, demikian pesan dari oom Lukas.

(RA/2021)



Picture Gallery